Sepulang dari Istiqlal, diatas Metro 11 tujuan Senen tiba-tiba  ‘Na telepon,  dia minta ditemenin ke RSPP karena Eza  mau diuap, akibat terlalu banyak lendir ditenggorokannya. Sebenarnya aku  udah punya  planning lain hari itu, facial disalon langganan..hehe, tapi kalau sudah menyangkut soal anak dan rumah sakit, aku paling tidak bisa menolak. Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke RSPP dengan busway dari  halte central busway Harmoni. Seperti biasanya suasana di shelter begitu padat, padahal hari sabtu. Tunggu punya tunggu akhirnya busway –nya datang juga. Busway yang aku tumpangi pun penuh sesak, aku harus rela berdiri  didepan  mas-mas yang duduk sambil ngantuk-ngantuk. “Duh, nikmatnya,” pikirku dalam hati.

Menjelang shelter busway BI aku berebut tempat kosong dengan seorang ibu muda sambil  menggendong anaknya, tapi karena kasihan, aku relakan juga kursi  itu buat si ibu muda.  Dasar emang rezeki, tak  lama kemudian ibu muda itu turun di shelter  Sarinah, kini tiba gililran aku yang menempati kursinya. “Alhamdulillah, akhiirnya..”.  Namun, baru aja menarik napas lega, didepan sebelah kiri, menempel tiang dekat pintu keluar, ada sepasang suami istri dengan kedua anak perempuan yang mungkin berusia 4 – 5 tahun berdiri tepat kearah ku.  Aku masih duduk terdiam, cuek. Berharap ada bapak-bapak dan mas-mas yang gagah perkasa yang ada disamping kanan dan kiriku, mau bermurah hati memberikan kursinya buat kedua anak itu. Tapi dalam hitungan detik  ternyata tidak ada satu orang pun yang mau beranjak bangun, akhirnya aku putuskan memberikan kursiku untuk kedua anak itu.  Bukannya pengen  sok jadi pahlawan atau sok baik, aku cuma tidak tega melihatnya kedua  anak berdiri kejempet-jempet. Karena aku bisa merasakan betapa tidak enaknya berdiri diatas  busway yang penuh sesak ditambah lagi kalau sopirnya rada ugal-ugalan. Aku berdiri diseberang kursi yang aku tempati, sambil terus berpegangan erat pada tiang gantungan yang berada tepat diatas kepalaku. Memandang keluar jendela, dimana gedung-gedung pencakar langit, tampak gagah berdiri.  Kenapa ya, kian hari rasa empati semakin menipis. Orang sudah tidak lagi peduli terhadap sesamanya, mungkin karena terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Atau mungkin mereka lupa, kalau segala perbuatan itu akan kembali kepada pemiliknya, meski hanya melakukan perbuatan yang remeh temeh sekalipun, karena Tuhan tidak pernah tidur…  

March 3rd, 2008 at 3:50 pm
5 Responses to “Penumpang..oh penumpang…”
  1. 1

    Untung masih ada orang sebaik mbak…..
    Itu yang membuat bumi masih berputar lho….
    Tapi ya itulah Jakarta
    Kota individualis dengan sepuluh juta Homo jakartensinya
    Tapi terkadang orang yang sudah ditolong orang lain juga terlalu mahal hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih…..
    Orang juga main selonong tanpa premisi saat lewat mendesak penumpang lain saat akan naik maupun turun bis kota.
    Betapa memang semakin mundur peradaban kota kita…..

    Salut buat mbak!

    salam kenal,

  2. 2
    deeply Says:

    #salam kenal kembali.. :p

  3. 3
    rchristina Says:

    gile..ternyata lo dah banyak berkorban demi gw..thx yah..moga2 persahabatan kita abadi smp lo merit n py cicit.amin

  4. 4
    rchristina Says:

    gile ternyata lo banyak berkorban demi gw..jadi ga enak , maaf ya selalu merepotkan..lo memang teman yang baik banget..thx god you send me goods friends..semoga persahabatan kita abadi ya..:)

  5. 5
    butt head Says:

    Yeah!! (Wrings hands)! Nice blog you have here. I’ve enjoyed much reading your last posts. Keep it that way.